Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

Internetan dapat Duit

 Pengen dapat duit ? Kerjanya  di rumah  dan tinggal  klik doang . Ikutin aj clixsense.
Pada awalnya aku juga agak bingung ya gimana sich caranya bisa produktif meski dirumah aja dan Cuma modal laptop sama modem.
 Akhirnya waktu browsing-browsing di internet aku nemuin clixsense.com.
Cara ikutannya mudah kok tinggal daftar terus ikutin petunjuk yang ada.
selain itu kita juga perlu  punya  akun Payza, PayPal atau Liberty Reserve.
Akun itu gunanya untuk mengirim duit kamu guys. Dan duit kamu bisa diambil minimal mencapai $1.
  Cara kerjanya cliksense cukup mudah, kita Cuma diminta untuk clik iklan dan liat iklan itu selama kurang lebih 10 detik dan nanti akan dapat  $ 0,02 per Klik Iklan PTC sampai $ 0.008 per Klik Referral lumayanlah kalau  tiap hari bisa online.hehehe
Di clixsense juga ada yang namanya ClixGrid, dan sangat mudah untuk bermain. Cukup klik di mana saja pada gambar dan menang sampai $ 5 yang masuk langsung ke saldo account kamu! Setiap klik akan membuka situs sponsor dan harus dilihat selama 10 detik. Setelah itu kamu akan tau kamu menang atau tidak. Dan kamu akan diberi kesempatan kurang lebih 25 kali setiap harinya.
mudahkan, kalau mau daftar klik link ini ya! 


Selasa, 15 Januari 2013

Belajar Mewarnai untuk AUD


Banyak masyarakat yang mengira bahwa menjadi guru PAUD  adalah hal yang sangat mudah
Dan tidak memerlukan pengalaman atau tingkat pendidikan yang  tinggi.  Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya Pendidikan pada Anak Usia Dini dan juga kurangnya pengetahuan pendidik bahwa masa usia dini adalah masa keemasan yang memerlukan banyak perhatian khususnya dalam peningkatan pengetahuan anak melalui bermain sambil belajar.
Untuk itu pendidik dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dalam segala bidang seperti dalam bidang seni (menyanyi, mewarnai, melukis, menggambar dsb)
Ada salah satu bentuk peningkatan mutu pendidik seperti yang saya pelajari dari dosen saya,
Khususnya dalam bidang seni musik dan seni rupa.
Yang akan saya bahas adalah tentang seni rupa seperti menggambar dan mewarnai.
Jangan anda mengira bahwa menggambar dan mewarnai itu sangat mudah, TIDAK sama sekali.
Untuk pendidik, dituntut untuk mulai belajar cara menggambar  tanpa menggunakan alat bantu seperti penggaris. Mulai denganmembuat garis lurus, lingkaran, garis bergelombang dsb.
Dan untuk mewarnai, juga harus dengan cara yang benar. Mulai dengan cara menggunakan crayon, memilih warna yang benar untuk setiap gambar dan gradasi juga perlu dikuasai oleh pendidik.
Coba anda perhatikan hasil karya pendidik di bawah ini :







 dari semua gambar diatas, dapat disimpulkan bahwa seharusnya untuk langit dimulai dari warna paling gelap ke warna paling muda misal kalau warna langit biru maka paling bawah biru muda.
untuk daun paling bawah beri warna hijau muda kemudian menggradasi ke hijau atau kuning muda.
untuk tanah di gradasi dari warna coklat tua ke muda dan tipis-tipis saja agas terlihat natural.
untuk sungai hasurnya riak-riak airnya berwarna putih bukan di beri warna sepidol hitam.
dan pada dasarnya saat mewarnai yang diperlukan adalah ketelitian dan ketenangan.
Sudah dapat anda bedakan bukan mana gambar yang dibuat dengan ketelitian dan tidak. Untuk itu sebagai pendidik seharusnya lebih berhati-hati dalam memberikan pembelajaran untuk anak didik. Dan semoga bermanfaat ya… selamat berjuang guru indonesia !!!

Sabtu, 27 Agustus 2011

Teknik Pembelajaran Kolaboratif MURDER

Hai sobat, mungkin banyak di antara kita yang kesulitan untuk mencari model pembelajaran yang pas dan dapat membuat kita paham betul dengan pelajaran yang kita dapat di sekolah maupun dalam perkuliahan. Maka dari itu saya sarankan agar teman-teman mencoba teknik pembelajaran MURDER, apa itu MURDER? Pembelajaran MURDER merupakan pembelajaran yang diadaptasi dari buku karya BOB NELSON “ The Complete Problem Solver ”. Teknik MURDER diartikan sebagai berikut :
a.       Mood (Suasana Hati)
Mood atau suasana hati yang positif, dapat memberikan semangat belajar yang besar sehingga konsentrasi dalam belajar dapat berjalan lancar. Dan kita dapat menyerap apa yang sedang dipelajari tanpa adanya gangguan dari fikiran-fikiran yang tidak penting untuk difikirkan.
Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa. Seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakalah siswa terbebas dari rasa takut dan menegangkan. Kecerdasan emosional ini berkaitan dengan pandangan kita tentang kehidupan, kemampuan kita bergembira, sendirian dan dengan orang lain, serta keseluruhan rasa puas dan kecewa yang kita rasakan. Hamzah (2006: 82) menyatakan bahwa suasana hati umum juga memiliki dua skala, yaitu sebagai berikut:
1.             Optimisme, yaitu kemampuan untuk mempertahankan sikap positif yang realistis terutama dalam menghadapi masa-masa sulit. Dalam pengertian luas, optimisme berarti makna kemampuan melihat sisi tentang kehidupan dan memelihara sikap positif, sekalipun kita berada dalam kesulitan. Optimisme mengasumsikan adanya harapan dalam cara orang menghadapi kehidupan.
2.             Kebahagiaan, yaitu kemampuan untuk mensyukuri kehidupan, menyukai diri sendiri dan orang lain, dan untuk bersemangat serta bergairah dalam melakukan setiap kegiatan.
Oleh karena itu perlu diupayakan agar proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan bisa dilakukan, pertama, dengan menata ruangan yang apik dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur-unsur kesehatan, kedua, melalui pengelolaan yang hidup dan bervariasi yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber belajar yang relevan.

b.      Understand (Memahami)
 pemahaman adalah mengerti benar atau mengetahui benar. Pemahaman dapat diartikan juga menguasai tertentu dengan pikiran, maka belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan filosofisnya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya, sehingga menyebabkan siswa memahami suatu situasi. Hal ini sangat penting bagi siswa yang belajar. Memahami maksudnya, menangkap maknanya, adalah tujuan akhir dari setiap mengajar. Pemahaman memiliki arti mendasar yang meletakan bagian-bagian belajar pada proporsinya. Tanpa itu, maka skill pengetahuan dan sikap tidak akan bermakna.
c.        Recall (Pengulangan)
Mengulang adalah usaha aktif untuk memasukkan informasi kedalam ingatan jangka panjang. Ini dapat dilakukan dengan “mengikat” fakta kedalam ingatan visual, auditorial, atau fisik. Otak banyak memiliki perangkat ingatan. Semakin banyak perangkat (indra) yang dilibatkan, semakin baik pula sebuah informasi baru tercatat. Me-recall tidak hanya terhadap pengetahuan tentang fakta, tetapi juga mengingat akan konsep yang luas, generalisasi yang telah didistribusikan, definisi, metode dalam mendekati masalah. Me-recall, bertujuan agar siswa memiliki kesempatan untuk membentuk atau menyusun kembali imformasi yang telah mereka terima (Jamarah, 2005: 108) .
d.      Digest (Penelaahan)
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam sistem pembelajaran. Dalam konteks tertentu, materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran. Artinya, sering terjadi proses pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian materi. Hal ini bisa dibenarkan manakalah tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pembelajaran (subject centere teaching). Untuk dapat menguasai materi pelajaran siswa tidak hanya berpedoman pada satu buku, karena pada dasarnya ada berbagai sumber yang bisa dijadikan sumber untuk memperoleh pengetahuan.
e.       Expand (Pengembangan)
Pengembangan merupakan hasil kumulatif dari pada pembelajaran. Hasil dari proses pembelajaran adalah perubahan perilaku siswa. Individu akan memperoleh perilaku yang baru, menetap, fungsional, positif didasari dan sebagainya. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran ialah perilaku secara keseluruhan yang mencakup aspek kognitif, afektif, kognitif dan mtorik.

f.       Review (Pelajari Kembali)
Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Suatu proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila informasi yang dipelajari dapat diingat dengan baik dan terhindar dari lupa. Mengingat adalah proses menerima, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran setelah diberikan tafsiran.
Proses mengingat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang meliputi faktor individu, faktor sesuatu yang harus diingat, dan faktor lingkungan. Dari individu, proses mengingat akan lebih efektif apabila individu memiliki minat yang besar, motivasi yang kuat, memiliki metode tertentu dalam pengamatan dan pembelajaran. Maka dari itulah mempelajari kembali materi yang sudah dipelajari merupakan usaha agar ingatan itu tidak mudah lepas.
Langkah- langkah penerapan strategi pembelajaran MURDER adalah sebagai berikut:
1.    Langkah pertama berhubungan dengan suasana hati (mood) adalah ciptakan suasana hati yang positif untuk belajar. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan kepribadian siswa.
2.    Langkah kedua berhubungan dengan pemahaman adalah segera tandai bahan pelajaran yang tidak dimengerti. Pusatkan perhatian pada mata pelajaran tersebut atau ada baiknya melakukan bersama beberapa kelompok latihan.
3.      Langkah ketiga berhubungan dengan pengulangan adalah setelah mempelajari satu bahan dalam suatu mata pelajaran, segeralah berhenti. Setelah itu, ulangi membahas bahan pelajaran itu dengan kata-kata siswa.
4.      Langkah keempat yang berhubungan dengan penelaahan adalah segera kembali pada bahan pelajaran yang tidak dimengerti. Carilah keterangan mengenai mata pelajaran itu dari artikel, buku teks atau sumber lainnya. Jika masih belum bisa, diskusikan dengan guru atau teman kelompok.
5.    Langkah kelima berhubungan dengan pengembangan adalah tanyakan pada diri sendiri mengenai tiga masalah di bawah ini, begitu selesai mempelajari satu mata pelajaran, yaitu:
1.        Andaikan bisa bertemu dengan penulis materi, pertanyaan atau kritik apa yang diajukan?
2.        Bagaimana bisa mengaplikasikan materi tersebut pada hal yang disukai?
3.        Bagaimana bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa lainnya?
6.    Langkah keenam yang berhubungan dengan review adalah pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari.

Dari berbagai sumber

Kamis, 24 Maret 2011

Kebebasan dalam Pembelajaran

KAHLIL Gibran dalam karyanya “Sang Nabi” menyatakan; “Anak Anda bukanlah anak Anda. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang merindukan diri sendiri. Meskipun mereka datang melalui Anda, Namun bukan dari Anda, dan meskipun mereka bersama Anda, mereka bukan milik Anda. Anda mungkin memberikan mereka cinta, namun tidak pikiran Anda, karena mereka memiliki pikirannya sendiri. Tubuh mereka mungkin ada di rumah Anda, Namun tidak jiwa mereka, karena jiwa mereka tinggal dalam rumah masa depan yang tidak dapat Anda kunjungi, bahkan tidak dalam mimpi Anda. Anda boleh berusaha menjadi seperti mereka, namun jangan berusaha membuat mereka seperti Anda.Anda adalah busur dari mana anak-anak Anda ditembakkan sebagai anak panah yang hidup. Relakan diri Anda melengkung di tangan pemanah demi kegembiraan”.


Sandy McGregor (2002) dalam bukunya “The Peace of Mind” mengatakan; “tahukah anda bahwa anak berusia 4-5 tahun dapat mempelajari lebih banyak data dan fakta dari pada mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi untuk mendapatkan gelar kesarjanaan?. Karena anak menikmatinya dan sangat senang melakukannya dan tidak stres, sementara mahasiswa menjalani proses pembelajaran tidak menyenangkan”.Paradigma baru pembelajaran menyenangkan menuntut adanya kebebasan pembelajaran karena hanya di alam dan suasana kebebasan tersebut peserta didik dapat mengungkapkan makna sebagai hasil dari interprestasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata.
Jadi, kebebasan adalah unsur yang esensial pembelajaran menyenangkan dan penentu keberhasilan belajar dimana peserta didik adalah subjek yang mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, serta kontrol belajar dipegang oleh siswa.Sedangkan tujuan pembelajaran yang menyenangkan lebih menekankan pada belajar bagaimana belajar, yakni menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif dan produktif dalam kontek nyata, mendorong siswa untuk berfikir, dan mendemonstrasikannya.Strategi pembelajaran menyenangkan menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian, pembelajaran lebih diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa, aktivitas belajar menekankan pada ketrampilan berfikir kritis, analitis, dan prediktif.
Di dalam cinta dan kasih sayang proses pembelajaran berlangsung dan kebebasan pembelajaran memberikan berbagai kemungkinan. Jika ruang kelas dikelola dengan bijaksana, para muridnya akan mencukupkan diri mereka, mereka belajar dan tidak menyia-nyiakan waktu dengan bertingkah, karena mereka mengasihi guru mereka, maka mereka tidak tertarik untuk meloloskan diri, karena mereka senang belajar, maka mereka temukan petualangan dan perjalanan dalam bahan pelajaran. Walaupun mereka boleh pulang setelah bel berbunyi, mereka tetap tinggal di kelas untuk melanjutkan pembelajaran mereka. Mereka mencukupkan diri untuk belajar dan oleh karenanya tidak putus sekolah.
Nyoman Sudana Degeng (2000) dalam artikelnya berjudul “Guru Baru di Era Indonesia Baru” memperkuat asumsi di atas dengan mengatakan; “Lingkungan belajar yang memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan pilihan memunculkan pembelajaran efektif dan mengembangkan mental produktif. Namun sayangnya, pola dan sistem pendidikan kita masih menganut hukum rimba, indoktrinasi, dan dalam prakteknya masih bernuansa centralistik. Belajar belum menjadi suatu aktivitas yang menyenangkan.
Belajar yang menyenangkan bagi peserta didik sangat ditentukan oleh mengajar yang menyenangkan pula. Dengan kata lain, rasa senang belajar ditentukan oleh rasa senang mengajar. Oleh karena keberhasilan belajar diawali oleh adanya rasa senang pendidikan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Gene E.Hall; Linda F. Quinn; Donna M.Gollnick (2008) dalam bukunya “The Joy of Teaching: Making a Difference in Student Learning” menyatakan bahwa; “guru yang baik pastilah kreatif, bersemangat, dan kerap kali menghibur, membuat proses pembelajaran menyenangkan dengan berbagai kegembiraan. Guru yang kurang berhasil membuat siswa belajar berarti guru tersebut tidak mengerjakan tugasnya sebagai guru”.  Jadi, belajar yang menyenangkan bagi peserta didik sangat ditentukan oleh mengajar yang menyenangkan pula. Oleh karena keberhasilan belajar berada ditangan pendidik yang senang mengajar.
Selain adanya kebebasan, pembelajaran menyenangkan dipengaruhi pula oleh implementasi gaya belajar peserta didik secara sempurna. Banyak anak dikeluarkan (droup out) dari sekolah, kemudian diketahui mereka menjadi tokoh termasyhur di dunia, seperti; (1) Winston Churchill mendapat nilai buruk dalam tugas-tugasnya di sekolah, dan gagap dalam berbicara, namun kemudian dia menjadi salah satu pemimpin berpengaruh dan orator ulung pada abad kedua puluh; (2) Albert Einstein suka melamun, gagal dalam pelajaran matematika di awal SMA, namun kemudian dia menjadi ilmuan fisika terbesar pada zamannya; (3) Thomas Alva Edison sering dipukuli di sekolahnya karena suka bingung dan dikenal seorang siswa mengajukan banyak pertanyaan; (4) Guru Beethoven mengatakan bahwa dia komposer yang payah, karena tidak bisa mengali dan membagi; (5) Widrow Wilson salah seorang presiden Amerika Serikat dikenal luas belum bisa membaca sampai berusia sebelas tahun”, dikutip dari Barbara Prashning (2007) dalam bukunya “The Power of Learning Styles”.
Kemudian diketahui hal tersebut di atas terjadi karena gaya belajar (learning style) mereka tidak cocok dengan gaya mengajar guru mereka. Untung saja kesalahan mengajar  (malteaching) teratasi karena motivasi belajar, semangat mencapai keberhasilan sendiri, dan bantuan orang yang penuh kasih sayang dan pengertian. Selama hampir tiga abad hingga saat ini, pembelajaran masih kental berpusat pada guru (teacher centries) dimana gaya belajar setiap siswa mengikuti gaya mengajar guru mereka, bukan sebaliknya”.
Kegagalan belajar disebabkan oleh kesalahan gaya mengajar dimana siswa belajar menyesuaikan dengan gaya belajar gurunya. Pembelajaran yang mampu mengembangan potensi diri peserta didik apabila dilakukan berdasarkan gaya belajar peserta didik,  dan pendidik melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan gaya belajar peserta didiknya.


Sumber : Ukhti Sri Handayani ) 


Diperoleh dari : http://www.salamiah.co.cc

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More