Recent Posts

Sabtu, 30 April 2011

SASTRA MELAYU KLASIK


Kisah Suami Dan Burung Beo

       Aku pernah diberitahu bahwa konon ada seorang yang sangat cemburuan yang mempunyai istri yang begitu cantik sehingga dia merupakan  kesempurnaan itu sendiri. Sang istri tidak pernah mengizinkan suaminya untuk berpergian dan meninggalkannya sendiri, sampai suatu hari dia mau tak mau harus melakukan perjalanan dia pergi ke pasar besar, membeli seekor burung beo, dan membawanya pulang. Burung beo itu pandai, berpengetahan luas, cerdas, dan tajam ingatanya. Lalu dia pergi melakukan perjalanan, dan ketika dia selesai dengan urusannya lalu pulang kembali, dia mengambil burung beo itu menanyakan tentang istrinya selama ditinggalkannya pergi. Burung beo itu memberikan penjelasan dari hari ke hari tentang apa yang telah dilakukan istrinya dengan kekasihnya dan bagaimana keduanya melakukan hal itu sepanjang kepergiannnya. Ketika sang suami mendengar penjelasan itu, dia menjadi sangat marah, pergi mendatangi istrinya dan memukulinya. Kaena mengira bahwa salah seorang dayangnya telah memberi tahu suaminya tentang apa yang telah dilakukannya dengan kekasihnya selama kepergian suaminya itu, sang istri menanyai dayang – dayangnya satu per satu, dan semua bersumpah bahwa mereka mendengar beo itulah yang memberi tahu sang suami.
       Ketika sang istri mendengar bahwa beo itulah yang telah memberi tahu suaminya, dia memerintahkan sala seorang dayangnya untuk mengambil batu gerinda dan menggerinda di bawah kandang, memerintahkan dayang ke dua untuk memercikan air di atas kandang, dan memerintahkan dayang ke tiga untuk membawa cermin baja dan berjalan bolak balik sepanjang malam.
       Malam itu sang suami pergi keluar dan ketika dia pulang keesokan harinya dia mrngambil burung beo itu, berbicara denagnnya dan menanyakan tentang apa yang sudah terjadi selama kepergianya malam itu. Burung neo itu menjawab, “ Tuan, maafkan saya, sebab semalam, sepanjang malam,saya tidak dapat mendengar atau melihat dengan jelas karena sangat gelap, hujan lebat, dan ada guruh halilintar.” Memngingat bahwa waktu itu musim panas, di bulan Juli, sang suami menyahut, “ Celakalah engkau, sekarang bukan musim hujan. “ Burung beo berkata, “ Ya demi Tuhan, sepanjang malam, saya melihat apa yang saya katakan padamu.“ Sang suami, yang berkesimpulan bahwa burung beo itu telah berbohong mengenai istrinya dan telah menuduhnya berdusta, menjadi marah, dan menangkap burung beo itu dan setelah mengeluarkannya dari kandang, memukulnya di atas tanah dan membunuhnya. Tetapi setelah burung beo itu mati, sang suami mendengar dari para tetangganya bahwa burung beo itu telah mengatakan hal yang sebenarnya, dan dia sangat menyesal bahwa dia telah ditipu oleh istrinya untuk membunuh burung beo itu.  Raja Yunan menyimpulkan,”Wazir, hal yang sama akan terjadi padaku.”
       Tetapi pada hari menjelang, Syahrazad dan dia menjadi terdiam. Lalu adiknya, Dinarzad berkata,”Alangkah aneh dan indahnya kisah itu!” Syahrazad menyaut,”Ini belum apa – apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu besok malam! Jika sang raja mengizinkan aku dan membiarkan aku hidup,aku akan menceritakan kepadsamu sesuatu yang lebih mengherankan.” Sang raja berkata kepada dirinya sendiri,” Demi Tuhan’ ini benar – benar sebuah kisdah yang mengherankan.”


                                         (Diambil dari kisah Seribu Satu Malam)








Analisis Cerita

Ø  Tema               : Tema cerita di atas yaitu Istana Sentris.
Ø  Alur                : Alur cerita di atas yaitu Maju.
Ø  Tokoh              : Tokoh dalam cerita di atas yaitu Manusia                             (keluarga raja meliputi Suami, Istri dan para                           Dayang), Binatang (Burung Beo).
Ø  Penokohan          : Karakter tokoh dalam cerita di atas yaitu:
       1. Suami    : Baik hati dan sabar
       2. Istri     : Jahat dan penghianat
   3. Beo      : Jujur
Ø  Setting            : Setting tempat pada cerita di atas yaitu di                          Sekitar Istana.
Ø  Suasana            : Suasana cerita di atas yaitu bermacam – macam                     yaitu sedih, senang, lucu.
Ø  Sudut Pandang     : Sudut pandang cerita di atas yaitu sudut pandang                    orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.
Ø  Amanat            : Amanat yang terkandung dalam cerita di atas                        yaitu agar kita selalu jujur dan menjadi orang                          yang setia.     
Ø  Nilai               : Nilai yang terkandung dalam cerita di atas yaitu                     nilai sosial budaya.
Ø  Kesesuaian         : Kesesuaian cerita di atas yaitu sesuai dengan                        kehidupan di zaman sekarang, banyak terjadi di                        kalangan masyarakat.





Sinopsis Cerita

       Di suatu kerajaan tinggal sepasang suami istri. Suami tersebut sangat setia dan sabar kepada sang istri. Pada suatu saat ketika sang suami akan pergi jauh meninggalkan sang istri pergi, sang suami pergi dahulu ke pasar dan membeli seekor burung beo yang pintar, cerdik dan mempunyai ingatan yang tajam dengan tujuan agar nanti pada waktu sang suami meninggalkan sang istri, burung beo tersebut tahu apa saja yang dilakukan sang istri.
       Setelah beberapa hari sang suami pergi, sang suami pun pulang dan menanyakan pada burung beo apa saja yang dilakukan sang istri saat ditinggalkannya. Burung beo pun menjawab dengan jujur, dia mengatakan bahwa sang istri bermain cinta dengan laki - laki lain. Tahu keadaan seperti ini,sang suami pun marah besar kemudian pergi lagi. Setelah sang suami pergi, sang istri marah besar kepada dayang – dayangnya dipikirnya dayangnya lah yang membocorkan hal ini padahal ternyata beo lah yang membocorkannya. Dengan ini sang istri bertindak cepat dan berusaha mencelakakan beo itu dangan cara memercikan air dari atas kandangannya.
       Keesokan harinya, sang suami pulang dan menanyakan kepada beo apa yang terjadi pada istrinya, beo pun menjawab bahwa dia tidak tahu apa – apa dengan alasan semalam hujan petir sehingga tidak tahu apa pun yang terjadi. Dengan alasan ini sang suami marah karena sekarang lagi musim kemarau jadi tidak mungkin terjadi hujan. Sang suami langsung membunuh beo itu karena dianggapnya beo itu berbohong. Setelah beo itu mati sang suami baru tahu bahwa beo itu tidak berbohong atas pemberitahuan para tetangganya.





0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More